Menghadirkan IoT di Stasiun Pengisian Bahan Bakar

Energy and Resources
Energy and Resources
May 19, 2023
Di Posting Pada 19 May 2023

Bahan bakar minyak masih merupakan bahan utama yang diperlukan oleh kendaraan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia untuk bisa berjalan. Bahkan menurut BPH Migas sebagaimana yang telah diberitakan oleh CNBC, konsumsi Pertalite masyarakat Indonesia naik hingga 3 juta kiloliter pada tahun 2022 dan memecahkan rekor sebagai jumlah konsumsi Pertalite tertinggi dalam 5 tahun terakhir. 

Dari sisi ekonomi, tingginya konsumsi BBM ini setidaknya menimbulkan masalah pada dua aspek yaitu aspek rantai pasok (supply chain) dan aspek subsidi. Pertamina selaku penguasa pangsa pasar BBM di Indonesia dituntut untuk bisa mendistribusikan barang pokok ini ke seluruh Indonesia, sehingga mau tidak mau supply BBM harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing SPBU. 

Masalah kedua adalah masalah subsidi. BBM adalah komoditas pokok dan strategis yang perlu disubsidi. Sebab, kenaikan harga BBM akan mendorong kenaikan barang-barang lain. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), 10% kelompok terkaya di Indonesia mengkonsumsi 61,7 liter BBM per bulan pada tahun 2021. Pada saat yang bersamaan, 10% masyarakat termiskin di negeri ini mengkonsumsi hanya 9,3 liter per bulan. Ini artinya jika subsidi BBM tidak dirumuskan dengan tepat, maka justru orang-orang kaya yang lebih banyak menikmati fasilitas tersebut. 

Salah satu solusi bersama untuk mengatasi kedua masalah ini adalah dengan digitalisasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) menggunakan internet of things (IoT).

Konsep IoT di Stasiun Pengisian Bahan Bakar

Konsep penerapan IoT di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Cukup sederhana. Pertama, tangki pengisian bahan bakar dipasangi alat yang bernama Automatic Tank Gauge (ATG). Dengan ATG ini, baik petugas SPBU terkait atau depo Pertamina terdekat bisa mengetahui jika ada stok BBM yang hampir habis. Dengan demikian, depo Pertamina tersebut akan segera mengirimkan supply tambahan. 

Di sisi lain, petugas pengisi BBM dilengkapi dengan alat khusus mirip mesin EDC yang berguna untuk memasukkan data pemesanan dan data pembayaran. Data pemesanan ini kemudian dapat ditampilkan di aplikasi desktop yang tersedia di kantor SPBU tersebut. Dengan demikian, petugas di balik meja kantor itu dapat mengetahui jumlah BBM yang terjual setiap harinya. 

Dalam program Digitalisasi SPBU ini, Pertamina juga menerbitkan aplikasi khusus bernama My Pertamina untuk menunjang pemesanan BBM dan produk Pertamina lainnya secara online. Selain itu, perusahaan pelat merah ini juga menggunakan kamera khusus yang didesain untuk menangkap plat kendaraan. Tujuannya adalah supaya distribusi BBM Subsidi, khususnya Solar JBT, dapat sesuai dengan target sasaran. 

Contoh Aplikasi IoT di Stasiun Pengisian Bahan Bakar

Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi IoT di stasiun pengisian bahan bakar:

1. Aplikasi MyPertamina

Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwasanya saat ini pembelian bahan bakar minyak bisa dilakukan secara online menggunakan aplikasi MyPertamina. Dengan aplikasi ini, masyarakat tidak hanya bisa melakukan pembayaran BBM secara online, tetapi juga bisa menemukan SPBU terdekat ketika sedang berada di perjalanan dan mendapatkan reward, seperti diskon pembelian BBM. 

Bagi Pertamina, data penggunaan aplikasi ini dapat digunakan untuk memastikan kalau BBM subsidi bisa tepat sasaran, dan merumuskan berbagai kebijakan strategik lainnya. 

2. Perangkat EDC

Selain aplikasi My Pertamina, SPBU Digital juga dilengkapi dengan perangkat EDC. Dengan perangkat ini, operator SPBU tersebut bisa memasukkan jumlah BBM yang dibeli oleh pelanggan sekaligus metode pembayarannya secara cepat. Dengan demikian, pembelian BBM menggunakan metode pembayaran non tunai juga bisa dilakukan. 

Tidak hanya itu, adanya perangkat ini juga memungkinkan pelanggan untuk membeli BBM secara self service. Pelanggan hanya perlu memasukkan jenis kendaraan, nominal pembelian, nomor handphone, nama dan nomor polisi kendaraan yang diisi. 

3. Program Smart Moda Transportasi (SmartMT)

Selain di SPBU, Pertamina juga meningkatkan penerapan IoT di mobil tangki Pertamina. Seperti yang telah disinggung di atas, sistem ATG yang tertanam di tangki SPBU dapat mengirimkan sinyal ke depo terdekat untuk mengirimkan suplai tambahan. Suplai tambahan tersebut lantas diangkut menggunakan mobil tangki Pertamina. 

Keselamatan dan keamanan proses pengiriman ini harus terjamin, oleh sebab itu kini Pertamina juga mengembangkan Program Smart Moda Transportasi atau SmartMT. Aplikasi SmartMT ini mampu mendeteksi jika ada masalah pada mobil tangki dan pengendaranya, seperti sopir yang mengantuk atau ban kempes. Dengan demikian, kecelakaan truk tangki akibat masalah teknis dan kelalaian manusia bisa dihindari. 

Keuntungan Menggunakan IoT di Stasiun Pengisian Bahan Bakar

SPBU

Berikut ini adalah beberapa keuntungan menggunakan IoT di stasiun pengisian bahan bakar:

1. Meningkatkan kualitas pelayanan

Pada tahun 2022, jumlah nominal pembayaran menggunakan uang elektronik naik hingga 30,84% dibandingkan pada tahun 2021 hingga mencapai Rp399,6 triliun. Gubernur BI, Perry Warjiyo, memperkirakan kalau jumlah ini akan meningkat hingga 23,9% atau tembus Rp495,2 triliun pada 2023. 

Ini artinya, pada tahun 2022-2003 semakin banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan uang elektronik untuk membayar, sehingga penyediaan alat pembayaran digital pada SPBU dapat meningkatkan kualitas pelayanan. 

2. Efisiensi biaya dan waktu

Sejak tahun 2021, Pertamina telah mengembangkan sistem auto replenishment dan pre purchase dalam program digitalisasi SPBU. Sistem auto replenishment adalah sistem pengiriman data stok SPBU secara real time ke depo terdekat. Dengan demikian, ketika sebuah SPBU kehabisan stock, depo terdekat dapat segera mengirimkan truk tangki yang telah dilengkapi dengan SmartMT. 

Adapun sistem pre purchase adalah sistem pemesanan bahan bakar oleh konsumen dimana konsumen dapat melakukan pembayaran terlebih dahulu sebelum kendaraannya diisi oleh petugas. Dengan kedua sistem ini, SPBU dapat mengisi stock mereka dengan lebih cepat dan pelanggan juga tidak perlu mengantri untuk membayar atau menerima pengembalian. 

3. Meningkatkan keamanan

Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini banyak oknum pemilik dan manajer SPBU “nakal” yang meraup keuntungan hingga miliaran rupiah karena memanipulasi takaran di SPBU. Oleh sebab itu, salah satu harapan penggunaan digitalisasi SPBU ini adalah pengurangan jumlah oknum “nakal” ini. 

Hal ini karena pada SPBU yang telah terdigitalisasi, nozzle tangki (alat pengisian BBM yang dipasang di tangki) sudah dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi jumlah BBM yang masuk ke kendaraan pelanggan. Apalagi, dengan sistem digital ini pelanggan juga bisa memasukkan nominal pembeliannya sendiri, sehingga baik petugas maupun top manajemen SPBU tersebut tidak bisa memanipulasi data pelanggan.

Jika dikombinasikan dengan penerapan IoT di bidang energi lainnya, maka aliran energi dapat menjadi lebih aman dan adil.

4. Distribusi BBM menjadi lebih tepat sasaran

Bagi pemangku kebijakan dan Pertamina, harapannya big data yang dihasilkan dari digitalisasi SPBU ini dapat membuat distribusi BBM menjadi lebih merata, sesuai kebutuhan dan sesuai target subsidi. Idealnya adalah, subsidi BBM seharusnya lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah kebawah. 

Digitalisasi SPBU memang sebuah inovasi yang menarik. Namun demikian, inovasi ini tidak akan bisa diterapkan di SPBU Anda jika SPBU tersebut tidak memiliki koneksi internet yang stabil. Misalnya, tangki sudah kosong, tapi sensor ATG tidak bisa segera mengirimkan sinyal ke depo terdekat karena SPBU Anda tidak memiliki sinyal internet yang stabil. 

Gunakan solusi koneksi internet dari Link Net untuk memperlancar bisnis SPBU Anda. Solusi internet dari LinkNet dilengkapi dengan jaringan dedicated internet yang didesain khusus untuk memperlancar arus data di SPBU Anda dengan lebih aman dan cepat. Tidak hanya itu, Solusi internet dari LinkNet juga dilengkapi dengan VSAT dan remote solution jika SPBU tersebut terletak di daerah-daerah terpencil.

Penulis: Farichatul Chusna.

Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Lihat Semua Artikel Lainnya  
  Tautan Berhasil di Copy